PILGUB JATENG 2018 SARANA PENDIDIKAN DEMOKRASI YANG BERINTEGRITAS BAGI PEMILIH PEMULA

PILGUB JATENG 2018 SARANA PENDIDIKAN DEMOKRASI YANG BERINTEGRITAS BAGI PEMILIH PEMULA
oleh NURIL HUDA, SHI. MH.


Pemilih pemula disatu sisi menjadi segmen yang memang unik, yakni memiliki antusisme tinggi dan bisa berfikir lebih rasional. Perilaku pemilih pemula yang baru memasuki usia hak pilih, pastilah belum memiliki jangkauan politik yang luas untuk menentukan calon yang harus dipilih.


Hajatan Besar masyarakat Jawa Tengah pada Tahun 2018 yang dilaksanakan pada tanggal 27 Juni 2018 ini merupakan bentuk demokrasi langsung. Karena pemilihan gubernur dan wakil gubernur melalui pemungutan suara merupakan sarana untuk mencapai tujuan Negara sesuai dengan persetujuan rakyat Untuk memilih pemimpin rakyat di Provinsi jawa Tengah ini Pemilu tidak boleh menyebabkan rusaknya sendi – sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.


Berbicara Hak pilih tentunya tidak terlepas kepada Pemilih pemula. Pemilih Pemula khususnya di Indonesia kebanyakan masih Pelajar dari tingkat SLTA dan Mahasiswa. Sehingga sering terjadi permasalahan yang berhubungan dengan pemula – pemula muda, dan perlu dipandang lebih penting. Karena mereka  yang dianggap paling riskan terhadap pengaruh – pengaruh negatif, sehingga dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jateng 2018 maupun Pemilu 2019, mereka tidak cukup dipandang sebelah mata, tapi mereka memerlukan pendekatan yang lebih nyata melalui program- program.


Dalam pemilu, jika pemula muda benar – benar menurut apa yang sudah menjadi peraturan Negara. Maka, merekapun mau tidak mau tetap terlibat dalam proses pemilihan umum, sehingga mereka perlu pengarahan agar tidak terindikasi dengan budaya – budaya yang tidak senada dengan ajaran agama.


Pemilih pemula dan pemilih muda sangat berbeda. Pemilih pemula adalah orang yang baru mempunyai hak untuk memilih, sedangkan pemilih muda bisa dikatakan orang yang sudah mempunyai hak untuk memilih dan pernah memilih, sehingga antara pemilih muda dan pemilih pemula sangat berbeda.


Selain Pemilih Pemula, yang perlu mendapat perhatian dalam Pilgub Jateng 2018 adalah money politic politisasi sara dan berita hoax. Tiga hal tersebut bisa dijadikan variabel untuk mengukur tinggi dan rendahnya integritas proses demokrasi melalui pemilihan langsung. Kita tahu bahwa Pilgub Jateng akan dilaksanakan pada Rabu Pon, 27 Juni 2018 mendatang.


Money politic atau sering disebut dengan politik uang adalah momok yang selalu saja ada setiap ada hajad besar Indonesia dalam Pilkada maupun Pemilihan Umum. Artinya bisa dimaknai dengan nama uang sogok politik agar orang yang mendapatkannya mengikuti kemauan si pemberi. Dapat disebut pula dengan istilah politik transaksional. Sehingga pemilih menggunakan hak pilihnya tidak sesuai dengan hati nurani, akal sehat dan ijtihad dari dalam dirinya. Tetapi pilihan dijatuhkan atas dasar diberi uang.
Manakala praktik ini marak jelang coblosan Pilgub maka proses demokrasi di Jateng akan tercoreng. Nilai suatu integritas dalam Pilkada juga merosot. Sehingga cita-cita Pilkada yang berintegritas makin jauh dari yang diharapkan. Alhasil, yang didapat dalam proses demokrasi tersebut tidak bisa disebut membanggakan.


Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 telah mengatur perihal money politic. Pasal 73 ayat (1) menyebut, “Calon dan/atau tim Kampanye dilarang menjanjikan dan/atau memberikan uang atau materi lainnya untuk mempengaruhi penyelenggara Pemilihan dan/atau Pemilih”. Ada dua sanksi yang dapat dijatuhkan atas pelanggaran pasal ini; sanksi administrasi dan sanksi pidana.
Berdasarkan putusan Bawaslu Provinsi bila terbukti melanggar Pasal 73 ayat (1) maka dikenai sanksi administrasi. Yaitu, pembatalan sebagai pasangan calon oleh KPU Provinsi. Bilamana terbukti melanggar Pasal 73 ayat (1) berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap maka dikenai sanksi pidana. Pasal 187A, B, C dan D, menyebut sanksi pidana penjara paling lama 72 bulan dan denda mencapai Rp 1 Milyar.


Politisasi sara yang terjadi pada Pilgub DKI Jakarta beberapa tempo lalu dapat dijadikan contoh otentik bagaimana situasi yang muncul akibat politisasi sara (suku, agama, ras dan antar golongan). Demontrasi besar-besaran, berjilid-jilid menjadikan situasi dan Kondisi semakin panas dan mengganggu ketentraman sosial. Dan sebenarnya hal itu bisa diselesaikan di meja pengadilan.
Persoalan sara biasanya dikaitkan dengan momentum Pilkada, maka persoalan bisa menjadi seolah lebih besar dari kenyataannya. Jangan ditanya siapa yang diuntungkan atau yang dirugikan dalam politisasi sara dalam Pikada DKI Jakarta yang lalu. Riilnya,  politisasi sara berhasil jadi pemicu renggangnya ikatan kebhinnekaan kita sebagai bangsa Indonesia.
Warga Jateng dikenal sebagai masyarakat santun, beretika, beradab, tepaselira, punya unggah-ungguh yang tinggi, adalah sangat memalukan hanya untuk urusan suksesi politik memakai isu sara. Oleh sebab itu, apa yang terjadi di DKI diharapkan tidak boleh terjadi dalam Pilgub Jateng terjadi politisasi sara dalam bentuk apapun. Apalagi sampai memperkosa teks-teks keagamaan untuk kepentingan politik Pilkada.


Kalau kita melihat dengan adanya Remaja yang menjadi Pemilih Pemula. Perspektif Remaja dalam dunia nyata merupakan generasi muda yang akan menggantikan posisi pemerintahan yang sekarang. Karena salah satu hal terpenting dalam sebuah organisasi atau pemerintahan adalah adanya generasi muda. Remaja sedikit demi sedikit terlibat dalam dunia politik yaitu melalui sebuah organisasi di sekolah, kemudian merambah ke pemilihan umum dalam Negara. Dalam hal ini pemilih atau pemungut suara yang cenderung sebagai bentuk salah satu pengamalan pancasila, pasti membutuhkan pengetahuan tentang pemilu agar bisa optimal dalam pemilu.
Hal yang sama, bahwa remaja sebagai pemilih pemula muda tentunya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk berperan sebagai pemilih pemula. Karena sebenarnya pemula muda selalu bersikap acuh tak acuh terhadap dunia politik. Sehingga sikap itu perlu dihilangkan sedikit demi sedikit agar mereka bisa dengan lapang dada terjun ke dunia politik.


Bisa kita lihat kondisi sekarang, bahwa kehidupan sosial di Indonesia semakin terombang- ambing, hal itu salah satunya disebabkan masuknya budaya barat ke Indonesia. Semua itu semakin nyata. Oleh sebab itu, pemilu dikalangan pemula muda sangat penting. Untuk memperbaiki bagaimana kita bisa merubah budaya yang tidak patut kita contoh, dan menjadikan pemula muda menjadi generasi yang baik agar sesuai dengan pengajaran yang berlaku.


Sangat diperlukan adanya pengarahan yang diwujudkan dengan kenyataan. Tidak semua warga Negara memiliki kepribadian yang baik, terutama pemula muda yang dianggap memenuhi syarat dalam pemiihan umum. Ada yang menyalahi aturan, bersikap vandalisme yang bertindak merusak lingkungan atau merusak nurma yang berlaku.


Hal itu juga disebabkan kondisi sosial yang tidak kondusif atau akibat kurangnya perhatian dari orang- orang sekitarnya, termasuk kurang adanya perhatian dari pemimpin masyarakat. Hal itu membuktikan bahwa untuk memiliki pemimpin yang bertanggung jawab, juga membutuhkan proses pemilu. Ikut serta dalam pemilihan merupakan pengamalan pancasila, khususnya sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.


Hajad Pemilihan yang bersifat umum mengandung makna menjamin kesempatan yang berlaku menyeluruh bagi semua warga Negara yang telah memenuhi persyaratan tertentu tanpa diskriminasi. Sebagai warga Negara yang baik, kita hendaknya dapat mengembangkan kesadaran berperan serta dalam pemilu. Peran serta tersebut dapat dilakukan dengan mengikuti kampanye atau ikut serta dalam pemilihan langsung.


Dalam dunia pendidikan, mulai dari pemimpin sampai kepala desa yang dipilih langsung oleh rakyat, wajib mempunyai program memajukan dunia pendidikan. Namun bukan hanya dalam bentuk program saja, tapi harus dibuktikan dengan nyata. Karena semua pelajar yang ada dalam kesatuan Negara, membutuhkan pendekatan dalam dunia pendidikan. Khususnya pelajar yang ikut berperan sebagai pemilih pemula, karena kebanyakan mereka masih SLTA dan mahasiswa, sehingga mereka sangat membutuhkan pendekatan tersebut karena berkaitan dengan masa depan.


Kebanyakan yang bisa berfikir panjang dalam memilih pemimpin adalah pemula muda. Sehingga mereka sangat menentukan jadi atau tidaknya pemimpin yang bisa dijadikan panutan. Semua itu membutuhkan pengarahan, pengajaran dan pendekatan, terutama pendidikan yang mendukung.


Pendidikan politik bisa dikatakan “Wajib” untuk dimiliki oleh seorang Pemilih Pemula ataupun Pemilih Muda. Pemilih Muda yang sudah mendapatkan pendidikan politik tentang pemilihan ataupun pemilu bisasanya menjadi sosok yang kritis dan jeli terhadap masalah yang timbul. Dan jangan kaget kalau dengan aktifnya pemuda yang mempunyai pendidikan politik yang mumpuni membuat Negara lebih kuat. Karena Pemudalah yang akan mengkontrol undanga-undang ataupun peraturan yang dipakai sebagai regulasi pemilihan ataupun Pemilu.


Selain pemilih muda ini diharapkan lebih kritis disbanding yang sudah beberapak kali mengikuti Pemilu, sehingga Pemilu ini harus benar – benar dilaksanakan menurut ketentuan peraturan perundang – undangan yang berlaku. Terlibatnya pemula muda dalam pemilu merupakan suatu hal yang patut disyukuri. Karena terpilih atau tidaknya pemimpin yang dapat dipercaya, tergantung pada rakyat dan semua pemula muda yang memenuhi syarat.


Oleh sebab itu, keterlibatan mereka dalam pemilu juga sangat penting. Juga sebaliknya, pemilu juga sangat penting bagi mereka. Sebagai rakyat dan pemula muda terutama mereka- mereka yang masih belajar, keduanya saling ketergantungan. Hal itu membuktikan bahwa seorang pemimpin yang telah telah terpilih harus bisa menunjukkan kepeduliannya terhadap masyarakat terutama dalam dunia pendidikan.


Asas LUBERJURDIL (Langsung, umum, bebas rahasia Jujur dan Adil) harus diterapkan dan harus tetap dijunjung tinggi, karena merupakan asas pemilihan umum yang wajib kita terapkan dalam proses pemilihan umum.


Selain dalam pendidikan, pemilu sangat penting bagi pemula muda untuk mengajarkan kesanggupan diri untuk terjun kedunia politik. Kesanggupan maksudnya, kemampuan diri untuk malakukan sesuatu yang didukung oleh kesediaan dan kemauan, sehingga pengajaran tersebut bersifat suka rela karena tanpa adanya unsur paksaan.


Memang situasi dan kondisi masyarakat satu dengan yang lainnya berbeda. Ada yang kondisi sosialnya maju dan ada juga yang masih ketinggalan. Begitu juga denga pemula muda, ada juga yang rela terjun ke Dunia perpolitikan dan ada juga yang tidak rela terjun kedunia politik. Namun dibalik itu semua, siapapun yang sudah berumur 17 tahun ke-atas, harus mewujudkan keikut sertaannya sebagai warga Negara dalam bentuk pemungutan suara.


Keikut sertaan tersebut merupakan suatu pengamalan Pancasila, khususnya sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pendidikan politik bagi pemilih pemula sebenarnya dimaksudkan untuk mewujudkan, setidak- tidaknya menyiapkan kader- kader yang dapat diandalkan untuk memenuhi harapan masyarakat luas. Dalam arti yang benar- benar memahami semangat yang terkandung dalam perjuangan sebagai kader bangsa.


Sebagai warga Negara kita harus sanggup mengabdikan diri untuk ikut serta dalam membangun Negara. Sebagai pemula muda, peran serta dalam pembangunan dapat diwujudkan dengan upaya yang bermanfaat bagi kepentingan rakyat banyak.
Meskipun pemula muda kebanyakan masih pelajar, yang belum bisa secara langsung terjun kedunia politik, tapi setidaknya sumbangan efektif dapat kita berikan dengan mengembangkan sikap-sikap yang mendukung pembangunan sesuai dengan kemampuan kita.


Karena pemula muda yang masih belajar, pekerjaannya sebagai pelajar juga merupakan salah satu bentuk keikut sertaannya dalam pembangunan Negara. Selain itu juga bisa dalam bentuk pemilihan umum, karena hal–hal tersebut termasuk suatu dukungan dalam pembangunan Negara yang dapat kita berikan.


Dalam pemilu, warga Negara bisa memilih pemimpin yang sekiranya bisa membangun Negara dengan lebih baik. Oleh sebab itu, pemilu juga sangat penting dalam hal pengabdian bela Negara. Karena dalam pemilu, rakyat dan pemula muda bisa menyalurkan suara secara langsung mengenai pemimpin yang memiliki karakter sesuai dengan keinginan bersama.
Meskipun tiap individu yang ada dalam Negara kesatuan republik Indonesia, memiliki tujuan dan cita- cita yang sejalan. Cita-cita tersebut tentunya ingin tercapai dengan tujuan awal ingin mempunyai pemimpin yang kharismatis dan bertanggung jawab. Namun sebelum menentukan siapa calon yang akan dipilih, perlu meneliti siapa diantara semua calon yang paling mendekati tipe pemimpin sempurna. Sehingga pemula muda perlu mengetahui bahwa calon pemimpin yang dipilih adalah calon pemimpin yang benar-benar bertanggung jawab agar tidak menyesal dihari kemudian.


Beberapa faktor yang turut mempengaruhi pilihan pemilih pemula adalah afilasi politik orang tua yang berpengaruh sangat kuat, begitu juga figur tokoh dan identifikasi politik yang ada di Lingkungan sekitar. Hal–hal tersebut menjadi faktor yang mempengaruhi fikiran pemula muda dalam menentukan pilihannya. Sehingga dalam menentukan pilihan perlu kemandirian yang kuat, agar tidak terbawa arus. Agar pilihan yang menjadi sasaran utama rakyat untuk memiliki pemimpin yang sesuai dengan keinginan bersama yaitu ingin memiliki pemimpin yang tau akan tugasnya, bukan pemimpin yang tau akan jabatannya. Dari pengalaman tersebut, pemula muda tentunya secara tidak langsung mendapatkan pendalaman tentang kepemimpinan, sehingga pemilu juga sangat bermanfaat bagi pemula muda terutama pemilih pemula.


Manfaat pemilu bagi pemilih pemula yang mayoritas pelajar, remaja dan mahasiswa, juga untuk mendidik dan mencerdaskan. Oleh karena itu, suara yang mereka berikan merupakan wujud kerjasama untuk mensukseskan pemilu. Karena dikalangan pemilih pemula, pendidikan politik sangat rendah. Sehingga pemilih pemula bisa menduduki posisi terpenting dalam pemilu. Kerendahan pendidikan politik tersebut tidak setara dengan jumlah pemilih pemula yang sangat banyak. Oleh sebab itu partisipasi mereka terkadang dimanfaatkan sebagai sasaran buruan para calon.


Hubungan pemilu dengan pemilih sangatlah erat. Karena dalam pemilu membutuhkan pemilih dan pemilih membutuhkan pemilu untuk memilih seorang pemimpin, karena Negara Indonesia menganut kedaulatan rakyat. Dalam pemilu setiap pemilih memiliki hak untuk memilih siapa yang kira – kira bisa dijadikan panutan yang bertanggung jawab. Karena dikalangan masyarakat khususnya dikalangan pemilih pemula. Perlakuan sesuai dengan fungsi dan kedudukan dalam masyarakat merupakan sebuah keadilan dalam kehidupan sosial budaya. Oleh sebab itu, pemilu sangatlah penting dikalangan pemilih pemula.


Di Jawa Tengah Pasangan calon kepala daerah baik di Pilgub Jateng maupun Pilkada di tujuh daerah di Jateng sepakat lakukan kampanye damai dan menjaga situasi kondusif selama pemilu berlangsung, karena ini adalah pesta demokrasi yang harus diwarnai kegembiraan.


Pemilu adalah pesta demokrasi yang harus dilaksanakan dengan damai dan penuh kegembiraan dan bukan permusuhan, tetapi di sini adalah adu program untuk membangun daerah, bahwa meskipun ada persaingan untuk memperebutkan hati warga namun tetap harus salam suasana sejuk dan damai.


Pesta lima tahun ini jangan sampai terbelah, marilah kita jaga Jawa Tengah agar tidak terbelah. Pesta demokrasi ini akan terwujud dengan damai, apabila para calon telah sepakat mewujudkan Pemilu Gubernur dan Pilkada berlangsung kondusif dan tidak saling menghujat hingga menimbulkan suasana panas. Pasangan harus calon harus mampu memaparkan visi misi serta program yang memikat.


Tagline Becik Tur Nyenengke semoga bisa bener-bener berwujud. Berkompetisi dengan penuh kegembiraan dan bahagia, diharapkan semoga semua Paslon mematuhi peraturan yang telah di tetapkan oleh KPU yang selalu diawasi dan dikontrol oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

Facebook Comments

0 Komentar

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.